Sebagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Badan Hukum, Universitas Hasanuddin dituntut untuk mengembangkan riset dan inovasi yang berorientasi pada kemashlahatan masyarakat. Memasuki era disrupsi industri 4.0, riset dan inovasi diharapkan dapat menjadi bagian dari solusi.
Fakultas Peternakan yang ada di Unhas menjadi salah satu fakultas yang secara konsisten mendorong hilirisasi produk penelitian. Dengan adopsi strategi pelibatan tetra-helix (Academic, Business, Community, Government), hilirisasi hasil penelitian ini dilaksanakan dengan melibatkan berbagai stakeholder.
Salah satu Pusat Unggulan di Unhas yang secara konsisten melaksanakan hilirasi hasil penelitian adalah Maiwa Breeding Center (MBC) yang berada di bawah Fakultas Peternakan. Ketua Pelaksana MBC, Dr. Syahdar Baba, S. Pt., M. Si. menjelaskan bahwa ide hilirisasi produk penelitian yang dilaksanakan melalui MBC melewati proses yang panjang, yang melibatkan Ristekdikti dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
“Kita bertemu teman-teman dari universitas lain, ada pihak pemerintah, dan industri juga. Ristekdikti kebetulan mempunyai program inovasi dengan target PTN Badan Hukum. Unhas kemudian mengajukan diri, dan kita dipercayakan untuk melaksanakan program hilirisasi ini dengan fokus untuk pengembangan peternakan sapi,” kata Syahdar.
Skema tetra-helix yang dikembangkan itu melibatkan berbagai pihak sesuai kapasitas. Akademisi melakukan riset unggulan untuk pengembangan produksi ternak sapi, pemerintah melalui Ristekdikti memberikan dukungan kebijakan, masyarakat sebagai penerima manfaat, dan industri sebagai pihak yang mendukung produk massal. Sejauh ini, ada 256 peternak yang tersebar di tiga kabupaten, yaitu Barru, Enrekang, dan Soppeng yang berada di bawah binaan MBC.
“Peran MBC ini menjadi semacam inkubator yang memfasilitasi dan mempertemukan berbagai pihak. Misalnya, kita melibatkan para peternak dengan sistem kerja sama bagi hasil. Sehingga, peternak akan memperoleh manfaat lebih,” kata Syahdar.

Dalam proses hilirisasi produk penelitian, Fakultas Peternakan menerapkan dua prinsip hilirisasi, yakni: komersialisasi hasil riset, dan penerapan hasil riset untuk masyarakat. Dengan pendekatan ini, maka teknologi peternakan yang dikembangkan di kampus dapat ditransformasikan kepada masyarakat, khususnya peternak, sehingga mendukung produktifitas.
Dr. Syahdar mengatakan bahwa salah satu tantangan yang dihadapi dalam program hilirisasi ini adalah mind-set rekan-rekan peneliti. Masih ada anggapan bahwa penelitian itu hanya fokus pada pengembangan ilmu pengetahuan saja. Padahal, tuntutan dewasa ini mengharapkan para peneliti dapat bergerak di luar dari sekat-sekat ilmu tersebut.
“Kita melakukan diskusi intensif dengan rekan-rekan peneliti, yang melibatkan juga pemerintah, fakultas, dan universitas. Intinya, kita ingin menanamkan mind-set baru bahwa prinsip pasar modern itu bukan lagi mekanisasi, seperti pada masa lalu. Dewasa ini, tuntutannya adalah optimasi. Hasil penelitian harus dapat dioptimalkan untuk kemashlahatan masyarakat,” kata Syahdar.
Dekan Fakultas Peternakan Unhas, Prof. Dr. Ir. Lellah Rahim, mengatakan bahwa hilirisasi produk penelitian di Fakultas Peternakan melibatkan berbagai bidang ilmu secara sinergis. Selain mengembangkan MBC sebagai salah pusat unggulan, fakultas yang dipimpinnya juga mengembangkan teknologi pengolahan pakan ternak, pengelolaan sapi bersertifikat, kandang ayam, dan sebagainya.
“Kami berharap dari upaya tersebut produk penelitian di fakultas ini bisa menjadi contoh pengembangan produk peternakan di Sulawesi Selatan secara khusus dan Indonesia pada umumnya,” jelas Prof. Lellah.
Kedepan, Fakultas Peternakan akan terus meningkatkan produk penelitian agar bisa terus memberu manfaat kepada masyarakat.(*)
Editor : Ishaq Rahman, AMIPR




