Mengapa Unhas Peduli pada Mental Health Sivitas Akademika?
Berita Kampus

Mengapa Unhas Peduli pada Mental Health Sivitas Akademika?

10 Oktober 2026 · 5:47 pm ·Staf Humas

MAKASSAR – Kesehatan mental bukan keadaan yang selalu tetap. Kondisi seseorang dapat berubah seiring pengalaman, tekanan, dan dukungan yang diterimanya. Karena itu, menjaga kesehatan mental merupakan proses berkelanjutan yang menjadi kepedulian bersama, termasuk di lingkungan Universitas Hasanuddin (Unhas).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memaknai kesehatan mental sebagai kesejahteraan yang membantu seseorang menghadapi tekanan hidup, mengembangkan kemampuan, belajar dan bekerja dengan baik, serta berkontribusi kepada komunitas. Artinya, kesehatan mental berkaitan langsung dengan kehidupan kampus, baik itu proses belajar, pekerjaan, hubungan sosial, dan partisipasi dalam kegiatan akademik.

Mahasiswa menghadapi tuntutan akademik dan penyesuaian kehidupan dewasa, sementara dosen dan tenaga kependidikan juga memiliki beban kerja serta tanggung jawab masing-masing. Sebuah artikel pada the Journal of Child Psychology and Psychiatry (2022) menyajikan tinjauan sistematis dan meta-analisis pada mahasiswa perguruan tinggi melaporkan gejala depresi dan kecemasan cukup banyak ditemukan dalam populasi yang diteliti. Hal ini patut menjadi pengingat bahwa kesulitan psikologis patut diperhatikan dan tidak semestinya dipandang sebagai persoalan pribadi yang harus ditanggung sendirian.

Pesan itu mengemuka dalam Sharing Session bertajuk “Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Changes”, bagian dari rangkaian Mental Health Day 2026. Pemateri Dwiana Fajriati Dewi mengajak peserta memahami kesehatan mental sebagai suatu kontinum, yaitu rentang kondisi yang dapat bergerak dari kurang baik menuju lebih stabil. Memahami perubahan ini membantu seseorang mengenali kebutuhan dirinya, sekaligus mengurangi anggapan bahwa kesehatan mental hanya perlu dibicarakan ketika seseorang berada dalam krisis.

Perawatan dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Dwiana menyampaikan bahwa aktivitas fisik ringan, tidur yang berkualitas, waktu istirahat, dan asupan bergizi dapat mendukung kesejahteraan. Aktivitas fisik tidak harus selalu berat atau berlangsung lama agar seseorang mulai bergerak. WHO juga merangkum bukti bahwa aktivitas fisik berkaitan dengan kesehatan mental, fungsi kognitif, dan kualitas tidur yang lebih baik.

Perhatian juga perlu diberikan pada cara seseorang berbicara kepada dirinya sendiri. Kebiasaan menyalahkan diri secara berlebihan dapat menambah beban saat menghadapi tekanan. Dwiana mendorong peserta melatih self-talk yang lebih suportif, sekalipun hal itu tidak selalu mudah.

“Penerimaan diri, kemandirian dalam menentukan pilihan, pertumbuhan pribadi, dan tujuan hidup juga menjadi bagian dari kesejahteraan yang perlu dipelihara,” kata Dwiana.

Di lingkungan kampus, kepedulian dapat diwujudkan melalui hubungan yang saling menghargai, batasan yang sehat, dan kesediaan mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi. Dukungan semacam ini bukan pengganti bantuan profesional ketika diperlukan, tetapi dapat membantu seseorang merasa aman untuk mengungkapkan kesulitannya dan mencari pertolongan.

Dalam sesi Art Therapy and Screening Session, Syafirah Nadhrah Mustamin mengingatkan bahwa sedih, cemas, takut, maupun ragu merupakan bagian dari pengalaman manusia yang perlu dikenali. Ia mengajak peserta yang hadir untuk belajar dari masa lalu dan merencanakan masa depan tanpa kehilangan perhatian terhadap kebutuhan yang sedang dirasakan.

“Sebagai cara membagi perhatian, gunakan porsi 60 persen untuk menjalani masa kini, 20 persen untuk merencanakan masa depan, dan 20 persen untuk mengambil pelajaran dari masa lalu,” kata Syarifah.

Rangkaian Mental Health Day 2026 yang berlangsung pada Sabtu, 10 Oktober 2026 ini menyediakan ruang bagi sivitas akademika untuk mengenali kondisi diri, memahami pengalaman emosional, dan mempelajari langkah sederhana dalam merawat kesehatan mental. Perawatan membutuhkan latihan dan kesadaran yang berkelanjutan, sementara lingkungan yang suportif dapat menjadi bagian penting dari proses tersebut.(*/dhs/ir)

Editor : Ishaq Rahman

Unhas Perkuat Kesadaran Kesehatan Mental melalui Mental Health Day 2026
Unhas Perkuat Kesadaran Kesehatan Mental melalui Mental Health Day 2026
Foto bersama peserta peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026

Bagikan Facebook X WhatsApp