Makassar — Universitas Hasanuddin (Unhas) terus mengembangkan pengelolaan sampah organik melalui teknologi biokonversi menggunakan Black Soldier Fly (BSF). Melalui pendekatan ini, sampah organik yang sebelumnya menjadi residu dibuang diolah menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali dalam rantai produksi.
Pengembangan biokonversi tersebut dilakukan di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Unhas dan menjadi bagian dari pengembangan Circular Biofarm. Sistem ini mengintegrasikan pengelolaan residu organik dengan budidaya BSF, sehingga sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan maggot dan menghasilkan berbagai produk turunan bernilai guna.

Berdasarkan rekapitulasi pengelolaan TPST hingga September 2026, sebanyak 619 kg sampah dari Unhas Hotel & Convention telah masuk ke TPST Unhas. Jumlah tersebut terdiri atas 456 kg pada Agustus dan 163 kg pada September, dengan pengangkutan dilakukan sebanyak 5 kali, yakni empat kali pada Agustus dan satu kali pada September.
Dekan Fakultas Peternakan Unhas,Prof. Dr. Ir. Syahdar Baba, S.Pt., M.Si., IPU menjelaskan bahwa biokonversi BSF menjadi salah satu pendekatan yang memungkinkan sampah organik dimanfaatkan kembali secara produktif.
“Biokonversi dengan BSF memungkinkan sampah organik yang sebelumnya menjadi beban lingkungan diubah menjadi sumber daya. Residu tersebut dapat menjadi pakan bagi maggot, kemudian menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung sektor peternakan dan pertanian,” jelas Prof. Syahdar.
Selama Agustus–September 2026, tercatat 440 kg bahan telah diberikan sebagai pakan maggot, terdiri atas 320 kg pada Agustus dan 120 kg pada September. Pada saat yang sama, TPST Unhas juga mulai membangun keberlanjutan siklus budidaya BSF melalui produksi telur dan pemeliharaan prepupa.
Hingga September 2026, TPST Unhas telah menghasilkan 235,6 gram telur BSF melalui enam kali panen. Produksi meningkat dari 28,3 gram pada Agustus menjadi 207,3 gram pada September, dengan rata-rata produksi mencapai 39,3 gram per kegiatan panen. Selain itu, sebanyak 18 kg prepupa telah dimasukkan ke dalam kandang lalat, terdiri atas 10 kg pada Agustus dan 8 kg pada September, untuk mendukung keberlanjutan siklus budidaya BSF.
Menurut Prof. Syahdar, pengembangan tersebut tidak berhenti pada proses penguraian sampah. Hasil biokonversi diarahkan menjadi bagian dari rantai pemanfaatan yang lebih luas, antara lain melalui produksi maggot, maggot meal, maggot oil, serta kasgot yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pembenah tanah.
“Konsepnya adalah membangun sebuah siklus. Sampah organik menjadi input bagi BSF, BSF menghasilkan biomassa dan produk turunan, sementara residu budidayanya dapat dikembalikan ke sistem pertanian. Inilah yang menjadi kekuatan Circular Biofarm, yaitu menghubungkan pengelolaan sampah dengan peternakan dan pertanian dalam satu ekosistem,” tambahnya.
Pengembangan biokonversi juga memperkuat sistem pencatatan dan pengelolaan TPST Unhas. Selain jumlah sampah yang masuk, sistem mulai mendokumentasikan frekuensi pengangkutan, berat sampah setiap pengangkutan, jumlah bahan yang diberikan sebagai pakan maggot, produksi telur BSF, serta keberlanjutan siklus budidayanya. Data tersebut menjadi dasar untuk mengukur efektivitas pengolahan dan pengembangan Circular Biofarm secara berkelanjutan.
Pemanfaatan BSF melalui biokonversi sekaligus mendukung upaya Unhas dalam mengurangi sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir. Dengan mengubah residu organik menjadi bahan baku dan produk yang dapat dimanfaatkan kembali, pendekatan ini mendorong pergeseran paradigma dari “waste management” menuju “resource management”.

Pengembangan tersebut berkontribusi pada SDG 11 – Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, melalui pengurangan sampah dan penguatan sistem pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan. Inisiatif ini juga mendukung SDG 12 – Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, melalui penerapan prinsip reduce, reuse, recycle serta pemanfaatan residu organik menjadi produk bernilai guna. Selain itu, pengelolaan residu organik melalui biokonversi dan pengembangan sistem ekonomi sirkular turut mendukung SDG 13 – Penanganan Perubahan Iklim, dengan mendorong pengurangan beban lingkungan melalui pemanfaatan kembali sumber daya dan pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.




