Halmahera Timur— Aktivitas pertambangan bijih nikel dapat membawa perubahan terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya, baik pada ekosistem darat maupun perairan pesisir. Untuk melihat sejauh mana perubahan tersebut terjadi, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin kembali melakukan monitoring biota laut dan darat di sekitar wilayah operasi PT Sumberdaya Arindo (PT SDA), Tanjung Buli, Kabupaten Halmahera Timur.
Monitoring yang dilaksanakan pada Desember 2025 ini menunjukan komitmen Unhas dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 14: Ekosistem Lautan (Life Below Water) melalui kontribusi keilmuan dalam pemantauan dan pengelolaan ekosistem pesisir lewat pemantauan rutin yang dilakukan dua kali dalam setahun, yakni pada Juni dan Desember. Kegiatan tersebut bertujuan mengevaluasi perubahan kondisi biologis dan ekologis selama aktivitas pertambangan berlangsung sekaligus memenuhi Rencana Monitoring Lingkungan sebagaimana tercantum dalam dokumen AMDAL PT Sumberdaya Arindo.
Ketua Tim Monitoring,Prof. Dr. Ir. Chair Rani, M.Si mengatakan pemantauan secara berkala diperlukan untuk mengetahui perubahan kondisi ekosistem yang terjadi di sekitar wilayah operasi pertambangan.
“Monitoring ini bukan sekadar melihat ada atau tidaknya perubahan biota, tetapi bagaimana kita membaca perubahan biologis dan ekologis yang terjadi selama aktivitas pertambangan berlangsung,” ujar Chair Rani.
Mengukur Perubahan Ekosistem Darat
Pada ekosistem darat, tim melakukan pengamatan terhadap flora dan fauna, termasuk kondisi vegetasi pada area reklamasi. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah area Texas Suwota.
Tim juga melakukan pengukuran lingkar batang pohon sebagai salah satu indikator untuk melihat pertumbuhan vegetasi dari waktu ke waktu.
Menurut Prof. Dr. Chair Rani, perkembangan vegetasi pada kawasan reklamasi menjadi salah satu indikator penting dalam melihat proses pemulihan lingkungan.
“Yang menarik, pada beberapa area reklamasi, vegetasi tumbuh cukup cepat dan mulai tertutup oleh Paku Resam, Anggrek tanah, serta semak perdu alami. Ini menjadi salah satu indikator yang kami amati dalam melihat proses pemulihan lingkungan,” jelasnya.
Bekas jalan yang telah dihijaukan dengan tanaman Ketapang dan tanaman penutup tanah di area front Texas-Suwota, misalnya, kini mulai tertutup rapat oleh vegetasi alami. Kondisi tersebut menunjukkan adanya perkembangan tutupan vegetasi pada area yang sebelumnya mengalami perubahan akibat aktivitas pertambangan.
Memantau Kondisi Perairan Pesisir
Pemantauan juga dilakukan pada ekosistem perairan pesisir Tanjung Buli. Tim melakukan sampling dan analisis terhadap sejumlah komponen biota laut, meliputi lamun, makroalga, nekton, plankton, benthos, serta terumbu karang.
Pengamatan terhadap banyak kelompok biota diperlukan untuk memperoleh gambaran kondisi ekosistem secara menyeluruh. Pada kawasan padang lamun, misalnya, tim menemukan sejumlah megabentos seperti teripang Synapta sp., bulu babi Diadema setosum, dan bintang laut Nordoa sp.
“Kami tidak hanya melihat satu jenis biota. Lamun, makroalga, nekton, plankton, benthos, dan terumbu karang semuanya kami pantau karena masing-masing memiliki peran dalam ekosistem pesisir,” kata Prof. Chair Rani.
Memeriksa Kondisi Terumbu Karang
Terumbu karang mendapat perhatian dalam monitoring karena sensitif terhadap perubahan kondisi perairan. Pengamatan dilakukan pada sejumlah stasiun untuk melihat komponen penutupan terumbu.
Pada beberapa stasiun pengamatan, penutupan masih didominasi karang hidup. Temuan tersebut memberikan informasi mengenai kondisi terumbu karang di kawasan pesisir Tanjung Buli yang dapat dibandingkan dengan hasil pemantauan pada periode sebelumnya.
Hasil Monitoring Jadi Dasar Pengelolaan Dampak
Hasil monitoring digunakan untuk mengetahui area yang masih stabil serta lokasi yang mengalami perubahan dan membutuhkan perhatian lebih lanjut.
“Dari hasil monitoring, kita bisa mengetahui titik-titik yang masih baik dan stabil maupun yang mengalami perubahan. Dari situ perusahaan dapat mengambil langkah-langkah preventif maupun implementatif untuk mengurangi dampak yang timbul akibat penambangan,” sebutnya.
Pemantauan berkala penting karena perubahan ekologis tidak selalu terlihat secara kasatmata. Perbandingan data dari setiap periode dapat memberikan gambaran mengenai perkembangan kondisi lingkungan sekaligus membantu menentukan langkah pengelolaan yang tepat.
Reklamasi dan Transplantasi Karang Dukung Pemulihan
Upaya pemulihan dilakukan pada ekosistem darat dan laut. Di kawasan reklamasi, penghijauan dikembangkan untuk mempercepat pertumbuhan vegetasi.
Di perairan, transplantasi terumbu karang melalui kerja sama dengan PT Antam Tbk Unit Bisnis Pertambangan Nikel (UBPN) Maluku Utara menunjukkan perkembangan positif.
“Upaya pemulihan yang sudah dilakukan perlu terus dipantau. Kita harus melihat bagaimana perkembangan lingkungan setelah dilakukan penghijauan maupun transplantasi karang,” tutur Prof Chair Rani.
Monitoring Berlangsung Sejak 2012
Kegiatan pemantauan biota di wilayah Halmahera Timur sebelumnya dilakukan PT Antam Tbk sejak 2012 hingga 2021, dengan keterlibatan tim FIKP Unhas sejak awal.
Pemantauan kemudian dilanjutkan PT Sumberdaya Arindo sejak Juni 2023. Monitoring pada Desember 2025 merupakan pemantauan keenam yang dilakukan PT SDA bersama tim FIKP Unhas.
Tim monitoring terdiri atas dosen dan tenaga ahli dari Departemen Ilmu Kelautan FIKP Unhas serta Program Studi Biologi Fakultas MIPA Unhas. Keahlian yang terlibat mencakup nekton, benthos subtidal, terumbu karang, lamun, makroalga, pemetaan, flora dan fauna darat. Kegiatan didukung tenaga lapangan serta asisten tenaga ahli dari Universitas Al Khairun dan PT Sumberdaya Arindo.
Pemantauan berkala ini menghasilkan data kondisi flora dan fauna di sekitar wilayah operasi pertambangan yang dapat digunakan untuk mengevaluasi pengelolaan lingkungan dan mengurangi dampak aktivitas pertambangan terhadap ekosistem darat maupun perairan pesisir.
Editor : Ishaq Rahman







