Dosen Fakultas Ekonomi Unhas Prof.Dr.Idayanti Nursyamsi mengatakan, ‘’glass ceiling’’ (sesuatu yang tak terlihat), menjadi hambatan bagi perempuan meraih prestasi tertinggi dalam pengembangan kariernya. Banyak penelitian sebelumnya memaparkan, perempuan mengalami kesulitan yang cukup tinggi dalam mengembangkan kariernya pada suatu organisasi.
‘’Glass ceiling’ mengacu kepada hambatan buatan untuk pengembangan dan kemajuan kaum perempuan dan minoritas yang mencerminkan diskriminasi atau garis pembatas antara mereka yang layak dan yang ditinggalkan,’’ kata Idayanti Nursyamsi dalam orasi ilmiah penerimaan jabatan Guru Besar Tetap dalam Ilmu Manajemen Sumber Daya Manusia pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang berlangsung dalam Rapat Akademik Unhas, Senin (29/8).
Dalam rapat yang dipimpin Ketua Senat Akademik Prof.Dr.M.Tahir Kasnawi, S.U. dan dihadiri Rektor Unhas Prof.Dr.Dwia Aries Tina Pulubuhu, M.A., Idayanti Nursyamsi menyampaikan orasi berjudul ‘’Glass Ceiling: Hambatan Pengembangan Karier Pemimpin Perempuan’’.
Ibu tiga anak yang dilahirkan di Ujungpandang 27 Juni 1969 dari pasangan Drs.M.Nur Syamsi, S.E. (alm)-Hj.Norma (almh) tersebut mengatakan, ‘’glass ceiling’’ merupakan hambatan yang tidak terlihat bagi kaum perempuan naik pada level tertinggi dalam suatu organisasi, terlepas dari klasifikasi dan prestasi mereka.
Di dunia, ‘’glass ceiling’’ awal dipecahkan oleh Sirimavo Baqndaranaike yang menjabat Perdana Menteri Ceylon (Sri Lanka), Indria Gandhi (PM India), sementara untuk presiden dipecahkan oleh Megawati Soekarnoputri yang pernah menjabat Presiden RI dan Pratibha Patil sebagai Presiden India pada tahun 2007,’’ lulusan doktor Universitas Brawijaya Malang 2998 ini memberi contoh.
Lulusan Fakultas Ekonomi Unhas 1992 tersebut mengatakan, antara tahun 1960-1975, terdapat lima perempuan yang menduduki posisi sebagai perdana menteri atau presiden. Antara tahun 1975-1991, terdapat 17 perempuan menduduki posisi politik tngkat atas dan pada tahun 1992-2007 terdapat 42 perempuan menduduki posisi penting dalam kancah perpolitikan.
‘’Sehingga, ‘’glass ceiling’’ sebagai hambatan yang tidak terlihat dalam proses pengembangan karier pemimpin perempuan juga terpecahkan,’’ kata istri Ir.Syarifuddin Lebu ini. (*)




