Sepanjang tahun 2024, Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas) terus mengembangkan inovasi hasil hutan bukan kayu melalui kegiatan budidaya jamur tiram yang dilakukan di Kampung Rimba, kawasan Fakultas Kehutanan Kampus Tamalanrea. Kegiatan ini menjadi bentuk nyata penerapan riset terapan yang berkelanjutan, sekaligus wadah pembelajaran bagi mahasiswa dalam mengembangkan produk hutan bernilai ekonomi tinggi.
Budidaya ini dipimpin oleh Dr. Ir. Baharuddin, MP, dosen Fakultas Kehutanan dengan fokus penelitian pada hasil hutan non-kayu. Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut memanfaatkan serbuk kayu sebagai media tanam ramah lingkungan yang diolah menjadi baglog, tempat tumbuh jamur tiram.
“Budidaya ini awalnya untuk penelitian, tetapi hasilnya juga kami jual dan dikonsumsi oleh sivitas akademika serta masyarakat sekitar kampus. Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana edukasi dan praktik langsung bagi mahasiswa,” jelas Dr. Baharuddin.
Sepanjang 2024, kegiatan budidaya jamur tiram di Kampung Rimba menunjukkan peningkatan minat, baik dari sisi penelitian mahasiswa maupun permintaan pasar. Harga jual jamur mencapai Rp25.000–Rp30.000 per kilogram, namun kapasitas produksi masih terbatas sekitar 3–4 kilogram per hari. Tim terus berupaya meningkatkan produksi hingga mencapai 10 kilogram per hari melalui penambahan jumlah baglog dan perbaikan sistem perawatan kumbung jamur.
Selain riset di kampus, inovasi budidaya jamur tiram ini juga diimplementasikan melalui kegiatan pengabdian masyarakat oleh Program Studi Rekayasa Kehutanan Fakultas Kehutanan Unhas di Dusun Kappang, Desa Labuaja, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros. Kegiatan bertema “Diversifikasi Produk Jamur” tersebut merupakan tindak lanjut dari hasil penelitian yang telah dilakukan di Kampus Tamalanrea.
Ketua Prodi Rekayasa Kehutanan, Dr. Ir. Siti Halimah Larekeng, S.P., M.P., menjelaskan bahwa kegiatan di Maros bertujuan mentransfer pengetahuan kepada masyarakat, khususnya kelompok binaan Rumah Inovasi Masyarakat dan Akademisi (RIMBA), agar mampu mengolah jamur tiram menjadi berbagai produk bernilai jual tinggi seperti bakso, nugget, dan keripik jamur.
Melalui kolaborasi riset dan pengabdian tersebut, Fakultas Kehutanan Unhas berkomitmen menjadikan Kampung Rimba sebagai pusat inovasi hasil hutan non-kayu yang berkelanjutan. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat riset akademik, tetapi juga memberikan dampak sosial-ekonomi nyata bagi masyarakat sekitar kampus dan daerah binaan.






