Berita Terbaru

UNIVERSITAS HASANUDDIN

Urgensi Transisi Energi untuk Mengatasi Krisis Iklim Jadi Fokus dalam MPR Goes to Campus

Krisis iklim saat ini telah menjadi salah satu tantangan terbesar bagi umat manusia. Peningkatan suhu global, perubahan pola cuaca, meningkatnya frekuensi bencana alam, serta naiknya permukaan air laut menunjukkan bahwa sistem iklim bumi sedang mengalami tekanan serius. Salah satu penyebab utama kondisi ini adalah penggunaan energi berbasis bahan bakar fosil—seperti batu bara, minyak bumi, dan gas—yang menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar. Oleh karena itu, transisi energi menuju sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan menjadi kebutuhan mendesak bagi dunia.

Dalam rangka merespon isu tersebut, Universitas Hasanuddin menghadirkan ruang dialog akademik melalui kegiatan bertajuk “MPR Goes to Campus: Urgensi Transisi Energi Mencegah Dampak Perubahan Iklim.” Kegiatan ini berlangsung di Arsjad Rasjid Lecture Theatre, Kampus Unhas Tamalanrea, pada Selasa (10/3).

Dr. Eddy Soeparno, S.H., M.H. selaku Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia hadir sebagai narasumber utama dengan membawakan materi bertopik “Dilema Paradoks Energi dan Penanganan Krisis Iklim di Indonesia.”

Dr. Eddy menjelaskan bahwa di era modern masih banyak pihak yang belum sepenuhnya menyadari ancaman krisis iklim. Padahal, dampak perubahan iklim telah mulai dirasakan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Dunia menghadapi tiga disrupsi besar yang memengaruhi tatanan kehidupan global, yaitu: pandemi Covid-19, perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan konflik geopolitik dunia. Ketiganya berpengaruh terhadap stabilitas energi dan ekonomi dunia.

“Isu krisis iklim semakin terasa melalui peningkatan suhu udara yang signifikan. Tahun 2024 tercatat sebagai salah satu periode dengan suhu tertinggi, yang menjadi peringatan serius bagi dunia, termasuk Indonesia,” kata Dr. Eddy.

Di sisi lain, pengelolaan sampah di Indonesia saat ini berada dalam kondisi darurat. Produksi sampah nasional mencapai sekitar 52 juta ton per tahun, namun hanya sekitar 40 persen yang dapat dikelola. Sisanya masih dibuang secara ilegal ke tempat pembuangan akhir (TPA) maupun ke ruang publik. Sumber terbesar sampah berasal dari limbah makanan (food waste) serta sampah plastik yang banyak dihasilkan dari aktivitas pasar dan rumah tangga.

“Sebagai upaya menghadapi krisis tersebut, diperlukan pendekatan terpadu melalui sinergi Nature-Based Solutions (NBS) dan Engineered-Based Solutions (EbS). Pendekatan ini dapat menjadi pilar strategis dalam menanggulangi krisis iklim sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi dan energi nasional melalui pemanfaatan sumber daya alam serta pengembangan teknologi rendah karbon,” papar Dr. Eddy.

Kuliah Umum yang dipandu oleh Prof. Suharman Hamzah (Sekretaris LPPM Unhas) ini diikuti oleh ratusan sivitas akademika Unhas, dan disiarkan melalui kanal Unhas TV. (*/dhs)

Editor : Ishaq Rahman

urgensi transisi energi untuk mengatasi krisis iklim jadi fokus dalam mpr goes to campus
urgensi transisi energi untuk mengatasi krisis iklim jadi fokus dalam mpr goes to campus (2)
urgensi transisi energi untuk mengatasi krisis iklim jadi fokus dalam mpr goes to campus

Berita terkait :

Share berita :

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Email

This post is also available in: Indonesia