Unhas bersama Pemerintah Kota Makassar dan Pemerintah Kota Maniwa, Jepang, telah mengembangkan program City to City Collaboration Project toward Decarbonized Society between Makassar City and Maniwa City sebagai bagian dari upaya mendorong terbentuknya masyarakat rendah karbon di Kota Makassar. Program yang dikembangkan pada Januari 2026 tersebut berfokus pada pemanfaatan biomassa dan limbah organik sebagai sumber energi serta produk bernilai guna, Senin (14/09).
Program ini dikembangkan melalui penyusunan Biomass Circulation Plan, yaitu rencana pengelolaan biomassa yang mengintegrasikan proses pengumpulan, pengolahan, pemanfaatan energi, hingga pemanfaatan kembali residu. Pendekatan tersebut dirancang untuk mengurangi limbah sekaligus menciptakan siklus pemanfaatan sumber daya yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Dalam implementasinya, program mencakup lima komponen utama, yakni pengumpulan sampah organik, pemulihan lumpur dari tangki septik, pembangkitan listrik berbasis gas metana, pemanfaatan biogas sebagai bahan bakar kendaraan berbasis Compressed Natural Gas (CNG), serta produksi pupuk cair dari residu hasil pengolahan.
Rangkaian tersebut membentuk sistem sirkulasi biomassa yang memungkinkan limbah organik tidak berhenti sebagai residu, tetapi diolah menjadi sumber energi dan produk yang dapat dimanfaatkan kembali. Sampah organik dan lumpur dari tangki septik, misalnya, dapat diproses untuk menghasilkan biogas. Gas metana yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik, sementara biogas juga diarahkan untuk mendukung penggunaan bahan bakar kendaraan. Adapun residu pengolahan dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk cair organik.

Dekan Fakultas Peternakan Unhas, Prof. Dr. Ir. Rismaneswati, S.P., M.P., menjelaskan bahwa pendekatan tersebut memberikan nilai tambah karena satu jenis sumber daya dapat dimanfaatkan melalui beberapa tahapan untuk menghasilkan manfaat yang berbeda. Menurutnya, pengelolaan biomassa secara terintegrasi dapat menjadi bagian penting dalam mengurangi beban limbah sekaligus mendukung kebutuhan energi dan produktivitas masyarakat.
“Pengelolaan biomassa secara terintegrasi memungkinkan limbah tidak hanya dikurangi, tetapi juga dimanfaatkan kembali menjadi energi dan produk yang memiliki nilai guna. Dengan demikian, satu sistem dapat memberikan manfaat secara bersamaan bagi lingkungan, energi, dan masyarakat,” jelas Prof. Rismaneswati.
Program ini memberikan dampak pada beberapa aspek sekaligus. Dari sisi lingkungan, pengolahan sampah organik dan lumpur secara terarah dapat mengurangi potensi pencemaran serta emisi yang berasal dari proses pembusukan limbah. Dari sisi energi, pemanfaatan biogas dan gas metana membuka peluang penggunaan sumber energi alternatif yang berasal dari sumber daya lokal. Sementara dari sisi ekonomi, produk turunan seperti pupuk cair berpotensi dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan produktif masyarakat.
Pendekatan tersebut juga mendukung penerapan prinsip circular economy di tingkat perkotaan. Material organik yang sebelumnya diposisikan sebagai limbah ditempatkan sebagai bagian dari rantai produksi baru melalui proses pemulihan dan pemanfaatan kembali. Model ini dapat mengurangi ketergantungan terhadap sistem pembuangan akhir sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya.
“Dampaknya tidak hanya diukur dari berapa banyak limbah yang dapat dikurangi, tetapi juga dari seberapa jauh sumber daya tersebut dapat kembali masuk ke dalam siklus pemanfaatan. Inilah yang menjadi nilai penting dari pendekatan biomass circulation,” tambah Prof. Rismawaty.
Dalam pengembangannya, Unhas berperan dalam memberikan dukungan berbasis keilmuan, khususnya dalam melihat potensi biomassa, proses pengolahan, pemanfaatan hasil, serta kesesuaian sistem dengan kondisi lokal Kota Makassar. Kajian berbasis data menjadi bagian penting untuk menentukan sumber biomassa yang tersedia, kebutuhan pengolahan, potensi energi yang dapat dihasilkan, hingga pemanfaatan produk hasil pengolahan.
Program ini juga menjadi ruang pertukaran pengetahuan antara Makassar dan Maniwa serta kota-kota lain yang mengikuti skema City to City Cooperation. Pengalaman mengenai teknologi, tata kelola, dan praktik dekarbonisasi dari berbagai daerah menjadi bahan pembelajaran untuk mengembangkan model yang lebih sesuai dengan kebutuhan Kota Makassar.
Melalui program tersebut, Unhas turut berkontribusi dalam mendorong perubahan pendekatan pengelolaan limbah di Kota Makassar, dari sistem yang berorientasi pada pembuangan menuju sistem yang menempatkan limbah sebagai sumber daya. Integrasi pengelolaan biomassa, produksi energi, dan pemanfaatan residu menjadi langkah konkret dalam mendukung pengurangan emisi sekaligus menciptakan manfaat lingkungan dan ekonomi bagi masyarakat.
Pengembangan Biomass Circulation Plan menjadi salah satu bentuk kontribusi Unhas dalam menghadirkan solusi berbasis riset terhadap persoalan lingkungan perkotaan. Program ini memperlihatkan bahwa agenda dekarbonisasi dapat diterapkan melalui pemanfaatan sumber daya lokal secara terintegrasi, sehingga upaya pengurangan emisi berjalan bersamaan dengan peningkatan efisiensi energi, pengelolaan limbah, dan penciptaan nilai tambah bagi masyarakat. (*/aya)




