Makassar – Satu notifikasi memancing rasa ingin tahu. Satu video bergulir ke video berikutnya. Tanpa terasa, waktu berlalu di depan layar. Kebiasaan mengejar hiburan dan kepuasan instan melalui media sosial perlahan dapat menggeser fokus, mengganggu pola tidur, hingga membuat aktivitas sehari-hari terasa sulit dikendalikan.
Fenomena dopamine rush tersebut diangkat dalam SANITASI 2025 (Semarak Bina Takwa Mahasiswa Muslim FKM Unhas). Mengusung tema “Seni Menata Pikiran dan Hati di Tengah Krisis Dopamine Rush”, kegiatan ini mengajak mahasiswa Muslimah Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin mengenali pola keseharian di tengah derasnya paparan digital.
Sebanyak 27 mahasiswa Muslimah FKM Unhas mengikuti SANITASI 2025 di FKM Unhas, Sabtu (6/12/2025). Diskusi berlangsung melalui tiga materi yang menghubungkan manajemen diri, kesehatan, pola hidup, serta penguatan spiritual Islam.
Materi pertama, “Manajemen Diri Menggapai Dunia & Akhirat”, disampaikan Prof. dr. Veni Hadju, M.Sc., Ph.D. Mahasiswa diajak melihat kembali cara mengelola waktu dan tanggung jawab sebagai bagian dari proses membangun kehidupan yang seimbang.
Aktivitas akademik dan ibadah perlu memperoleh perhatian yang proporsional. Prestasi di kampus dapat berjalan beriringan dengan penguatan pengetahuan agama. Pemahaman ilmu syar’i juga dibahas sebagai bekal mahasiswa dalam menghadapi dinamika kehidupan kampus.
Dari persoalan manajemen diri, pembahasan bergerak pada aspek kesehatan. Dr. Nurzakiah, SKM., MKM., Dietisien melalui materi “Euforia Dopamine vs Ketenangan Hati: Resep Menata Hidup Seimbang Muslim Cerdas” mengajak peserta mengenali kebiasaan mengejar reward instan.
Media sosial, telepon pintar, serta konsumsi hiburan digital memberikan rangsangan berulang yang membuat perhatian mudah berpindah. Kebiasaan tersebut dapat berdampak pada fokus, konsistensi, suasana hati, kualitas tidur, dan produktivitas.
Peserta diajak melakukan langkah sederhana untuk mengatur kembali keseharian. Pola makan bergizi seimbang, pembatasan konsumsi gula dan kafein, serta tidur berkualitas dibahas sebagai bagian dari perawatan diri.
Ketenangan juga dibahas dari sisi spiritual. Mengingat Allah, berdzikir, beribadah, dan melakukan muhasabah dapat memberikan ruang bagi seseorang untuk berhenti sejenak dari berbagai rangsangan eksternal. Pesan tersebut selaras dengan QS. Ar-Ra’d ayat 28 tentang ketenangan hati melalui mengingat Allah.
Konsep mindfulness Islami turut diperkenalkan. Peserta diajak lebih sadar ketika menggunakan gawai, memberi batas pada waktu layar, menyediakan waktu untuk membaca Al-Qur’an, serta menghadirkan fokus dalam ibadah.
Pembahasan tentang hubungan manusia dengan dunia digital dilanjutkan melalui materi “Dopamine Detox: Menjernihkan Pikiran dan Hati Bersama Al-Qur’an” oleh Novia Kurnia Sari, S.Si.
Peserta diajak mengenali kondisi lost in feeds, saat seseorang larut dalam arus konten digital hingga kehilangan waktu, fokus, bahkan koneksi dengan dirinya sendiri. Di tengah situasi tersebut, Al-Qur’an diperkenalkan sebagai kompas yang membantu manusia menemukan kembali arah dan makna.
Kedekatan dengan Al-Qur’an juga ditempatkan sebagai bagian dari upaya merawat ketenangan. Membaca, memahami, serta mengamalkan ayat-ayat Allah dapat membuka ruang refleksi bagi mahasiswa dalam menghadapi tekanan sosial dan derasnya tuntutan kehidupan digital.
Peserta kemudian diarahkan untuk mengevaluasi kembali aktivitas digital masing-masing. Pertanyaannya sederhana: berapa banyak waktu yang digunakan untuk mencari kesenangan sesaat, dan berapa banyak waktu yang dialokasikan untuk hal yang benar-benar memberikan makna?
SANITASI 2025 mendorong perubahan melalui langkah kecil. Peserta diajak mengikuti tantangan tujuh hari dengan membatasi penggunaan layar, meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an, memperkuat ibadah, serta membangun kebiasaan sehat secara konsisten.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa menghadapi dopamine rush tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Kesadaran terhadap kebiasaan sehari-hari, kemampuan mengatur prioritas, pola hidup sehat, serta kedekatan spiritual dapat membantu mahasiswa mengelola perhatian dan kesehariannya secara lebih terarah.
Rangkaian SANITASI 2025 ditutup dengan paket ukhuwah, pemberian hadiah, dan penutupan. Kegiatan ini sekaligus memperkuat ruang belajar bagi mahasiswa Muslimah FKM Unhas untuk merawat kesehatan, membangun ketahanan diri, dan menjaga keseimbangan antara akademik, keluarga, pertemanan, hiburan, serta kehidupan spiritual.
Upaya tersebut turut mendukung SDGs 3: Good Health and Well-being, melalui penguatan kesadaran mahasiswa terhadap kesehatan dan kesejahteraan yang mencakup aspek fisik, psikologis, sosial, dan spiritual.
Editor : Ishaq Rahman