Unhas Petakan Kebun Pala Tomandin Premium di Fakfak, Kembangkan Sistem Digital Berbasis Spasial
Berita Kampus

Unhas Petakan Kebun Pala Tomandin Premium di Fakfak, Kembangkan Sistem Digital Berbasis Spasial

26 Oktober 2026 · 10:54 am ·Humas Unhas

FAKFAK — Universitas Hasanuddin (Unhas) melalui Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 melakukan pemetaan spasial kebun pala Tomandin di kawasan transmigrasi Weri–Saharey, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Kegiatan ini menjadi bagian dari Tema 8 Ekspedisi Patriot, yakni Digitalisasi, yang berfokus pada penguatan basis data komoditas unggulan untuk mendukung peningkatan daya saing pala Tomandin Fakfak.

Kegiatan dipimpin oleh Ketua Peneliti TEP 20 Unhas, Muhammad Junaid, SP., MP., PhD., ini dilakukan dengan menelusuri kebun pala milik masyarakat setempat, mengumpulkan data lokasi kebun, titik koordinat, serta informasi terkait mutu biji pala untuk dihimpun dalam sistem digital DiGiFarm Agro-Maritime Commodity Hub.

Pada tahap awal, pemetaan mencakup 50 petani pala. Data tersebut diharapkan menjadi dasar bagi pengembangan sistem informasi komoditas yang lebih terstruktur, sekaligus mendukung perencanaan produksi dan pemasaran pala di kawasan transmigrasi.

Ketua tim peneliti TEP 20 Unhas Muhammad Junaid menjelaskan, digitalisasi merupakan salah satu pendekatan untuk memperkuat pendataan potensi komoditas unggulan di wilayah yang memiliki keterbatasan akses infrastruktur.

“Melalui sistem digital, informasi mengenai lokasi kebun dan karakteristik mutu pala dapat terdokumentasi dengan lebih baik sehingga berpotensi mendukung pengembangan komoditas dan peningkatan daya saing petani” kata Junaid.

Pelaksanaan survei di Weri–Saharey menghadapi tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur. Kawasan tersebut berjarak sekitar empat jam perjalanan darat dari pusat Kota Fakfak. Pasokan listrik masih terbatas, sedangkan akses internet belum memadai di sejumlah lokasi.

Untuk mengatasi kendala tersebut, tim membawa sumber listrik mandiri berupa portable power station serta perangkat internet portabel. Perangkat ini mendukung proses pencatatan dan pengiriman data hasil survei ke dalam dasbor digital dari lokasi kegiatan.

Menurut Junaid, pemanfaatan teknologi dalam kegiatan lapangan perlu disertai keterlibatan masyarakat agar sistem yang dibangun dapat terus dimanfaatkan setelah kegiatan ekspedisi berakhir.

“Penguatan kemampuan petani dalam melakukan pencatatan dan memperbarui data merupakan bagian penting dari keberlanjutan sistem yang dikembangkan,” jelas Junaid.

Selain mencatat lokasi kebun, pengembangan basis data juga diarahkan pada pendokumentasian mutu biji pala Tomandin. Salah satu pendekatan yang digunakan untuk mendukung pengukuran ialah pemanfaatan digital caliper atau jangka sorong digital untuk mengukur dimensi biji, serta timbangan digital untuk mengetahui beratnya.

Pendataan mutu merupakan aspek penting dalam pengembangan komoditas pala premium. Informasi yang terdokumentasi dengan baik dapat membantu petani memahami karakteristik hasil panen dan memberikan dasar yang lebih terukur dalam komunikasi dengan calon pembeli.

Pengembangan DiGiFarm Agro-Maritime Commodity Hub diarahkan untuk mendukung pembangunan ekosistem informasi komoditas yang mencakup pencatatan produksi, harga, stok, mutu, transaksi, dan akses pasar.

Selain pengembangan sistem, program ini direncanakan mencakup pelatihan pencatatan komoditas secara digital bagi petani. Peserta pelatihan diharapkan dapat menjadi kader digital di tingkat kampung yang membantu memperbarui data dan melanjutkan pengelolaan sistem setelah kegiatan ekspedisi berakhir.

Penguatan kapasitas masyarakat tersebut merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan pemanfaatan teknologi digital di kawasan transmigrasi.

Rencana pengembangan program juga mencakup penyusunan standar operasional prosedur (SOP) panen dan pascapanen pala, penguatan koperasi dan Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam), serta pengembangan basis data produksi dan harga. Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat mendukung pengelolaan komoditas yang lebih terorganisasi sekaligus memperkuat peran kelembagaan lokal dalam rantai pemasaran.

Meski demikian, keberlanjutan sistem tetap membutuhkan dukungan infrastruktur, termasuk jaringan internet, perangkat operasional, pembaruan data secara berkala, serta sumber daya manusia lokal yang mampu mengelolanya.

Hasil kajian Ekspedisi Patriot 2025 mengidentifikasi sejumlah tantangan di kawasan Weri–Saharey, antara lain keterbatasan akses jalan, listrik, air bersih, internet, fasilitas penyimpanan, dan pengolahan pascapanen. Pemetaan spasial merupakan langkah awal untuk menyediakan data yang dapat dimanfaatkan dalam perencanaan pengembangan kawasan.(*/ams)

Editor : Ishaq Rahman

Unhas Petakan Kebun Pala Tomandin Premium di Fakfak, Kembangkan Sistem Digital Berbasis Spasial
Unhas Petakan Kebun Pala Tomandin Premium di Fakfak, Kembangkan Sistem Digital Berbasis Spasial

Bagikan Facebook X WhatsApp