MAKASSAR – Kemudahan transaksi digital menuntut generasi muda semakin cermat dalam mengelola keuangan. Penggunaan mobile banking, QRIS, layanan paylater, hingga investasi melalui aplikasi perlu diimbangi pemahaman tentang risiko agar mahasiswa mampu mengambil keputusan finansial secara bijak.
Pesan tersebut disampaikan Andi Timo Pangerang, Anggota Badan Supervisi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dalam kuliah umum LIKE-It (Literasi Keuangan Indonesia Terdepan) bertajuk Financial Resilience for the Future dengan tema “Membangun Generasi yang Aman, Paham, dan Terlindungi”.
Andi Timo menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah mempermudah berbagai aktivitas keuangan. Namun, kemudahan bertransaksi juga membawa risiko apabila pengguna tidak mempertimbangkan kebutuhan, keamanan, dan konsekuensi dari setiap keputusan keuangan.
“Adik-adik mahasiswa sekarang sangat dimudahkan oleh teknologi. Semuanya tinggal klik, dan teknologi sudah banyak membantu. Namun, semakin mudah transaksi dilakukan, semakin penting pula bagi kita untuk berpikir sebelum mengambil keputusan. Kenali produk investasi, pahami risikonya, dan pilih dengan sadar,” ujarnya.
Ia mengingatkan tiga risiko yang dekat dengan aktivitas keuangan digital, yakni belanja impulsif, pemilihan produk keuangan yang tidak sesuai kebutuhan, serta penipuan digital. Paparan terhadap berbagai tawaran produk keuangan dan investasi melalui media sosial juga menuntut mahasiswa untuk lebih kritis dalam memeriksa informasi sebelum mengambil keputusan.
Menurutnya, pengelolaan keuangan yang baik perlu dimulai dengan perencanaan sejak awal, bukan sekadar mengandalkan uang yang tersisa setelah memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mahasiswa perlu membiasakan diri mendahulukan kebutuhan, mengendalikan keinginan, dan menyisihkan sebagian uang untuk tabungan maupun investasi.
Andi Timo juga memperkenalkan tiga aspek dasar pengelolaan keuangan, yaitu control, protect, dan growth. Control berarti mengendalikan keuangan, termasuk mencatat pemasukan dan pengeluaran. Protect berkaitan dengan perlindungan keuangan, termasuk memahami ketentuan penjaminan simpanan. Sementara itu, growth mengacu pada upaya mengembangkan uang melalui instrumen keuangan yang sesuai dengan tujuan dan kemampuan masing-masing.
Dalam menentukan instrumen investasi, mahasiswa perlu mempertimbangkan tujuan keuangan, jangka waktu investasi, serta tingkat risiko yang sanggup ditanggung. Saham, deposito, dan emas merupakan beberapa instrumen yang dapat dipelajari sesuai kebutuhan dan profil risiko. Pemahaman terhadap karakteristik produk menjadi penting agar keputusan investasi tidak sekadar mengikuti tren atau tawaran yang belum terverifikasi.
Ia turut mendorong mahasiswa mulai mencatat pengeluaran bulanan untuk mengetahui pola penggunaan uang dan mengevaluasi kebutuhan finansial. Dengan mengetahui ke mana uang digunakan, mahasiswa dapat menyusun anggaran yang lebih terarah sekaligus menentukan jumlah yang dapat disisihkan untuk tabungan dan investasi.
Perencanaan keuangan juga perlu memperhatikan kebutuhan jangka panjang, termasuk menyiapkan tabungan dan perlindungan finansial untuk masa depan. Kebiasaan mengelola uang sejak usia muda diharapkan membantu mahasiswa membangun kemandirian finansial serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Kuliah umum LIKE-It tersebut berlangsung di Baruga AP Pettarani, Universitas Hasanuddin, Makassar, Selasa 20 Oktober 2026. Kegiatan ini merupakan ruang edukasi bagi mahasiswa untuk memahami pengelolaan keuangan, perlindungan simpanan, dan investasi di tengah perkembangan layanan keuangan digital. (*/dhs)
Editor : Ishaq Rahman



